Jawa Melayu Dayak
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirahmanirrahim.
Kesenian Reog Ponorogo
Blog kali ini Aku akan membahas tentang bahasa. Kita semua pasti tahu kalau bahasa merupakan hal yang sangat penting dalam berkomunikasi. Maka dari itu Aku mau berbagi pengalaman tentang bahasa.
Aku besar di sebuah desa bernama desa Tri Mulya. Ada tiga bahasa yang digunakan di desaku. Pertama, bahasa Indonesia bahasa semua warga negara Indonesia. Kedua Bahasa Jawa, kebetulan di sekitar rumahku mayoritas orang Jawa. Jadi ketika berkomunikasi dengan tetangga sering menggunakan bahasa Jawa. Misal, ketika ditanya orang tua, "arep nyandi le?" Aku pun menjawab, "bade tumbas uyah bude" kurang lebih seperti itu heheh.
Bahasa ketiga yaitu bahasa Dayak. Ketika Aku masuk sekolah dasar aku mengenal banyak orang Dayak. Entah karena sudah terbiasa atau apa mereka sering menggunakan bahasa daerah ketimbang bahasa Indonesia ketika berbicara bersama temannya. Waktu pulang sekolah, Aku pulang jalan kaki bersama temanku si orang Dayak ini. Mulai lah mereka berbicara bahasa daerah mereka. Aku dan temannku yang tidak menggerti pun hanya memasang muka datar penuh kebingungan. Dia pun menanyakan padaku, "ngonih omo tilek tilek oko?" Aku bergetar, bingung, bimbang, kacau ta karuan. Ah lebay hahah. Setelah mereka puas menertawakan ku. Akhirnya Mereka memeberi tahu artinya yaitu, "kenapa Kamu lihat-lihat Aku?". kurang lebih seperti itu.
Pernah suatu ketika tukang sayur keliling bejualan dipemukiman yang mayoritas orang Dayak. situkang sayur ini adalah orang jawa. Sembari mengatakan, "kobis kobis sekilo 10 ribu" dengan suara keras. Mereka orang Dayak kebingunan. Karena bahasa Dayak kobis itu Mati (biasa dipakai ketika refleks,seperti, "mati aku"). Sedangkan bahasa Jawanya kobis (kubis) itu adalah sayur kol. Sama namun berbeda.
Ketika Aku SMA, Aku mau tidak mau harus beradaptasi dengan bahasa melayu. Di SMA ku mayoritas orang Melayu. Bayangin saja logat Jawa ngomong bahasa Melayu wkwkw.
Semasa SMA, perlahan Aku mulai jarang menggunakan bahasa Jawa, kecuali ketka berbicara dengan teman yang sama_sama orang Jawa. Awal kata Melayu yang Aku tahu adalah "bayaham", "pajoh", "nyak am" dan masih ada lagi. Pernah terjadi momen yang menurutku lumayan lucu hehe. Temenku orang Jawa mengatakan, "wong melayu ora iso katokan". Temanku orang Melayu spontan bertanya maksudnya. Temenku bilang kalau artinya itu, "orang melayu ngga bisa pake celana". Seketika temenku orang Melayu ini marah karena tersinggung wkwk. Dijelaskanlah kalau melayu dalam Bahasa Jawa itu artinya lari, jadi maksud kalimat tadi tu orang lari ngga bisa pakai celana.
Mau seunik apapun bahasa daerahmu, Sebagus apapun itu tetap lestarikan juga bahasa Indonesia, karena bahasa indonesia adalah bahasa persatuan.
Mungkin iku wae pengalaman seng iso tak bagek ke, mugo-mugo ceritane iso menghibur konco konco.
Sampai bertemu kembali, salam hangat. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
_
Keren banget parah
BalasHapus